Dr. Eni Sumarni, Dosen Teknik Pertanian Unsoed: Budidaya Hidroponik Menjanjikan

tepteptep01 12/07/2017

[sumber: berita.suaramerdeka.com, 12/7/17] – TEKNOLOGI budidaya hidroponik tanpa menggunakan tanah sebagai media tanaman. Karena itu, sumber utama pasokan unsur haranya adalah larutan nutrisi yang dipersiapkan khusus. Larutan nutrisi ini, menurut ahli tanaman dari Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto Dr. Eni Sumarni, dapat diberikan dalam bentuk genangan atau dalam keadaan mengalir. Selain itu, larutan ini juga dapat dialirkan atau dimasukkan ke media tanam.

Aeroponik adalah salah satu contoh aplikasi budidaya hidroponik dengan prinsip penyaluran (penyemprotan) lauran nutrisi ke zona perakaran tanaman yang digantung atau menggantung. Metode ini telah diteliti dan didiseminasikan oleh Dr. Eni untuk pembibitan beberapa kentang sehat dan unggul di berbagai daerah baik dataran tinggi maupun dataran sedang/rendah. Berikut contoh artikel hasil penelitian sekaligus pengabdian Dr. Eni terkait budidaya hidroponik tersebut:

——

TEKNOLOGI AEROPONIK PEMBIBITAN KENTANG DI DESA GROGOL KECAMATAN PEJAWARAN KLASTER KENTANGBANJARNEGARA, oleh Ratna Sari Dewi, S.TP.  Jawa Tengah merupakan koridor industri dan jasa dalam Master Plan Percepatan Pembangunan Indonesia (MP3EI). Jawa Tengah memiliki klaster industri kentang dan olahannya yang dikenal dengan sebutan Klaster Kentang Dieng Banjarnegara (KKDB). KKDB merupakan inisiasi Balitbang Provinsi Jateng bekerjasama dengan Bappeda Kab. Banjarnegarayang dibentuk pada tahun 2010. Klaster Kentang Banjarnegara mengalami permasalahan pasokan benih kentang. Kebutuhan benih kentang nasional tahun 2010 sebesar 103.478 ton, tetapi yang dapat terpenuhi dari dalam negeri hanya sekitar 14.702 ton. Jika dihitung rupiah dengan harga bibit Rp 7500/kg, kebutuhan bibit kentang mencapai 801 miliar. Kebutuhan bibit kentang di Jawa Tengah mencapai 12.000 ton per tahunnya, namun baru dapat dipenuhi sebanyak 300 ton, sehingga terjadi kekurangan bibit unggul sebanyak 11.700 ton. Produktivitas kentang di Banjarnegara rata-rata turun sebesar 4,12% per tahun. Penurunan produktivitas kentang di Banjarnegara menjadi suatu permasalahan penting, karena Banjarnegara merupakan sentra produksi kentang terluas di Jawa Tengah, yaitu 8.434 ha dari luas panen kentang di Jawa Tengah yaitu 16.585 ha (BPS, 2010). Jawa Tengahsendiri memiliki sentra kentang terluas di Indonesia dengan luas panen kentang di Indonesia sebesar 54.819 ha.Rendahnya produksi kentang disebabkan oleh penggunaan bibit yang kurang bermutu, teknik bercocok tanam yang kurang baik serta kurang tepatnya pengendalian hama dan penyakit. Penggunaan benih kentang yang diperbanyak secara terus menerus juga merupakan penyebab kemerosotan produksi kentang di Jawa Tengah. Hal ini diakibatkan adanya penyakit yang terakumulasi pada setiap generasi dan terus terbawa pada generasi benih. Masalah utama dalam produksi kentang ialah mahalnya harga bibit, karena sulitnya mendapatkan lahan bersih dari penyakit tular tanah untuk produksi benih padahal perkiraan biaya penggunaan bibit kentang di beberapa negara berkembang mencapai 55% dari total biaya produksi usaha tani kentang. Oleh karena itu peningkatan mutu benih lokal sangat diperlukan untuk menghindari ketergantungan akan impor benih. Salah satu alternatif solusi peningkatan mutu benih kentang tersebut adalah menggunakan teknologi aeroponik. Teknologi aeroponik merupakan terobosan produksi benih kentang. Keunggulan teknologi aeroponik yaitu: (1) dapat menghasilkan umbi kentang yang banyak (10 kali lipat dibandingkan cara konvensionalyang hanya sekitar 3-5 knol/tanaman), (2) mengurangi penggunaan pestisida, umbi sehat dan bersih, (3) mudah dipanen dan diatur sesuai ukuran yang diinginkan, (4) hemat tenaga kerja, (5) bebas patogen dan (6) nutrisi dapat diatur sesuai perkembangan tanaman.Teknik aeroponik yang diterapkan di Klaster Kentang Dieng Banjarnegara, khususnya di Desa Grogol Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara saat ini telah mampu menghasilkan benih sebanyak lebih dari 100 knol/tanaman. Sistem produksi benih kentang dengan aeroponik mulai dicoba oleh Balitbang Provinsi Jawa Tengah tahun 2011 dengan tenaga ahli dari Fakultas Pertanian Unsoed yang dimotori oleh Dr.Ir. Saparso, MP yaitu pengaruh formula larutan nutrisi dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil pembibitan kentang dalam sistem aeroponik. Hasil yang diperoleh adalah jumlah umbi per rumpun mencapai rata-rata 44 buah. Penelitian sistem aeroponik untuk produksi benih dengan penerapan tiga macam nozel dalam pemberian larutan nutrisi telah dilakukan melalui Riset Unggulan Daerah (RUD) Balitbang Provinsi Jateng tahun 2012 dengan tenaga ahli tim Fakultas Pertanian Unsoed: Eni Sumarni, S.TP, Msi; G.H Sumartono, SP, MS, Msi dan Dr. Ardiansyah, S.TP, MSi. Hasilnya diperoleh nozel dengan spesifikasi curah (flowrate) 0,83 l/menit – 1 l/menit cukup baik dalam pemberian larutan nutrisi, tetapi masih memerlukan penyempurnaan pada tekanan kabut, nutrisi untuk memperoleh keseragaman benih dan hasil tinggi serta perlunya pencegahan terhadap serangan layu bakteri. Titik utama aplikasi aeroponik di lapang adalah tekanan (pressure) yang dihasilkan oleh pompa harus tinggi dan kesesuaian desain instalasi. Tekanan tinggi pada selang saluran akan menghasilkan butiran air berbentuk kabut. Permasalahan dilapang untuk teknik aeroponik pada umumnya adalah tekanan yang dihasilkan pompa kurang tinggi sehingga terkreasi butiran air kasar bukan kabut sehingga densitas oksigen butiran air menurun. Semakin kecil butiran air maka permukaan butiran air semakin luas. Semakin luas permukaan butiran air maka persinggungan dengan udara semakin banyak. Semakin banyak persinggungan dengan udara maka kemungkinan penambatan oksigen oleh butiran air semakin besar. Oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara yang sampai ke akar merupakan kunci keunggulan aeroponik. Selama perjalanan dari lubang sprinkler hingga sampai ke akar, butiran akan menambat oksigen dari udara sehingga densitas oksigen dalam butiran meningkat dan baik untuk perkembangan tanaman. Penelitian teknik budidaya kentang dengan aeroponik telah dilakukan untuk produksi umbi kentang mini konvensional. Teknik budidaya dengan aeroponik dapat memperoleh laba 33%/m2 sampai 67%/m2. Usaha pembibitan tersebut memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi. Oleh karena itu untuk mendorong percepatan innovation driven economy, pada 2012 hingga 2013Balitbang Provinsi Jateng bekersama dengan Unsoed dan fasilitasi pendampingan dari Dinas Pertanian (Ir. Suhari) dan Intermediator Teknologi Kemenristek (Ratna Sari Dewi, S.TP) berusaha mendorong breeder lokal untuk mengembangkan pembibitan kentang mutu unggul (bersertifikat). Rumah aeroponik bantuan teknologi dari Balitbang berukuran 4 x 8 m2dengan kapasitas 21 m2terletak di Desa Grogol Kecamatan Pejawaran Kabupaten Banjarnegara.Rumah konstruksi aeroponik dapat dibangun sesuai kebutuhan dan ketersediaan dana. Rumah tanaman dengan biaya konstruksi rendah memilki ciri antara lain strukturnya sederhana dengan konstruksi dari bahan lokal yang tersedia di kawasan yang beriklim setempat. Bambu dan kayu adalah bahan yang banyak digunakan di Indonesia, karena biaya relatif murah. Untuk jangka waktu pemakaian lebih dari 10 tahun sebaiknya rumah tanaman dibangun dengan rangka besi. Untuk pemakaian kurang dari 5 tahun sebaiknya digunakan rangka bambu. Ventilasi alamiah sebaiknya dimanfaatkan secara maksimum sehingga tidak diperlukan peralatan khusus untuk mengendalikan kondisi lingkungan dalam rumah tanaman. Untuk kawasan beriklim tropika orientasi rumah tanaman sebaiknya memanjang ke timur dan barat, sehingga atap rumah tanaman menghadap ke utara dan Selatan. Hal ini memungkinkan cahaya matahari dapat mengenai tanaman secara lebih merata sepanjang hari. Laju ventilasi alamiah sangat bergantung dengan kecepatan udara di luar rumah tanaman, sehingga rumah tanaman dapat dibuat lebih optimum dengan informasi kondisi iklim setempat. Informasi lebih lanjut mengenai teknologi aeroponik dapat menghubungi: H.Giri Santoso dari KKDB (081327453000), Bidang Bangrap Iptek Balitbang Provinsi Jateng (024 3540025) atau Eni Sumarni Fakultas Pertanian Unsoed (081391396079) (reposted by d’kg).

——

Bravo Dr. Eni Sumarni…. Maju Terus TEP UNSOED!…

About the Author

Leave a Reply