Krissandi Wijaya, Ph.D., Dosen Teknik Pertanian UNSOED, dan Budidaya Kentang Berkaidah Konservasi

tepteptep01 17/06/2013

[sumber: unsoed.ac.id, 17/6/13] – Kentang selama ini merupakan salah satu komoditas favorit bagi petani khususnya di dataran tinggi.  Dibalik keuntungan yang menggiurkan, budidaya kentang yang dilakukan petani juga menyimpan masalah yang mengerikan.  Cara bertani yang tradisional dengan guludan yang vertikal dan terlalu mengandalkan pupuk kimia menyebabkan berbagai masalah seperti erosi tanah, kerusakan tanah atas, dan juga percepatan sedimentasi.  Atas dasar persoalan itulah, Krissandi Wijaya, Ph.D sejak 2006 terus berupaya melakukan penelitian untuk budidaya kentang yang berkaidah konservasi.  “PR besarnya hari ini adalah bagaimana kita bisa menghasilakan kentang dengan jumlah dan keuntungan yang setidaknya sama tapi dengan cara yang berkaidah konservasi”, demikian ungkap Doktor lulusan Tokyo University of Agirculture and Technology (TUAT) ini.

Krissandi mengungkapkan bahwa saat ini kondisi lahan pertanian kentang terutama di Dataran Tinggi Dieng sudah sangat kritis.  “Lahan pertanian kentang di Dieng sudah sangat kritis dan telah menimbulkan berbagai efek terhadap lingkungan”, demikian katanya.  Krissandi juga mengungkapkan bahwa di samping merusak tanah, sistem pertanian kentang yang digunakan sekarang memiliki andil yang sangat besar terhadap sedimentasi yang terjadi di waduk Mrican Banjarnegara.  “Data yang saya terima menunjukkan bahwa setiap tahun waduk Mrican mengalami sedimentasi dua setengah persennya, darimana lagi kalau bukan erosi tanah dari atas”, demikian lanjutnya.

Saat ini Krissandi mengembangkan penelitiannya di Serang Purbalingga bekerjasama dengan The University of Tokyo (UTokyo), Jepang.  Setelah melakukan berbagai uji coba, kali ini Krissandi memadukan budidaya kentang dengan cara mengkombinasikan pupuk organik dan arang.  Hal ini dilakukannya agar produksi kentang bisa tetap tinggi meskipun guludan tanah lahan kentang dibuat horisontal. “Untuk saat ini hasilnya cukup menggembirakan, secara morfologi tumbuhannya tampak lebih besar dan lebih tahan terhadap penyakit”, demikian tuturnya.  Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah kentang granola dan kentang atlantis.  “Selama ini petani kita kadang menjualnya dengan harga yang sama di pasaran, padahal kentang atlantis yang biasa dibuat chip memiliki nilai yang lebih tinggi”, demikian katanya sembari memaparkan data bahwa kebutuhan kentang atlantis dalam negeri baru dapat dipenuhi sepuluh sampai dua puluh persen saja.

Tak hanya sibuk dengan penelitiannya, Krissandi juga melakukan penyuluhan ke masyarakat sekitar terutama berkaitan dengan cara menanam kentang yang ramah lingkungan.  “Saya memberikan pengertian kepada masyarakat, sebab dengan guludan yang vertikal pada lahan miring sebagaimana yang saat ini dilakukan erosinya bisa mencapai lima puluh hingga tujuh puluh persen dengan membuat guludan memotong atau horisontal, erosi tersebut dapat jauh berkurang”, demikian tuturnya. Krissandi berharap, dengan penyuluhan dan hasil penelitian yang ada lambat laun masyarakat paham bahwa menanam kentang dengan cara yang ramah lingkungan sangat penting, terutama untuk kelanjutan budidaya kentang itu sendiri dan untuk masa depan generasi demi generasi.

Krissandi menyadari bahwa untuk merubah kebiasaan lama butuh proses.  Dengan usaha yang gigih, ia yakin bahwa teknologi tepat guna untuk budidaya kentang berkelanjutan dapat terwujud. Meskipun masih membutuhkan pengembangan lebih lanjut, namun setidaknya harapan untuk pertanian kentang yang ramah lingkungan semakin nyata.  Krissandi juga berharap agar terjalin kerjasama antara tiga pihak baik pemerintah, masyarakat, dan akademisi dalam mengatasi persoalan pertanian kentang ini.  “Dengan sinergi tiga pihak ini, saya yakin pertanian kentang kita akan menemukan titik terang”, demikian ungkapnya. (reposted by d’kg)

About the Author

Leave a Reply