Menjawab Masalah Ketahanan Pangan, Dr. Ardiansyah, Dosen Teknik Pertanian UNSOED, Teliti Padi Tanpa Genangan Air

tepteptep01 04/01/2012

[sumber: unsoed.ac.id, 4/1/12] – Persoalan lahan yang semakin sempit, air yang ke depan akan semakin sulit, dan perubahan iklim tentu menjadi masalah yang cukup serius di sektor pertanian terutama pertanian tanaman pangan.  Salah satunya adalah padi.  Persoalan sempitnya lahan harus dijawab dengan peningkatan produksi, perubahan iklim menuntut pertanian yang ramah lingkungan, sementara semakin sedikitnya air menuntut sistem pertanian produksi tinggi dengan air yang sedikit.  Dahulu hal tersebut akan sulit diwujudkan, namun kali ini Dosen-dosen Fakultas Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian berusaha mewujudkannya.  Tim penelitian yang diketuai Dr. Ardiansyah, S.TP.,M.Si, dan beranggotakan Arief Sudarmadji, ST.,MT, dan Ir Masrukhi, MP berupaya menjawab persoalan itu dengan melakukan penelitian ‘Pengembangan Teknologi Tepatguna dengan Sistem of Rice Intensification (SRI) untuk mewujudkan ketahanan pangan dan mengurangi efek perubahan iklim’.  Penelitian ini sudah dilakukan sejak Bulan Juli 2011 dan mulai menunjukkan hasilnya.

Meneliti penanaman padi dengan sedikit air (tidak digenangi), tim penelitian ini membuat demplot di Cimanggu, Kabupaten Cilacap.  Disampaikan oleh Dr. Ardiansyah, bahwa penelitian ini dilakukan berbagai perlakuan terhadap tanaman padi dengan tidak digenangi air (System of Rice Intensification).  Diantara beberapa perlakukan yang dilakukan adalah padi diberikan MOL (Mikroorganisme Lokal) dari bahan rebung, sebagai pengganti pupuk cair pasaran.  Ada juga yang diberikan MOL dari bahan keong emas, dan ada yang diberi pupuk anorganik.  Sebelum tanam, lahan padi juga diberi pupuk organik.  Dalam penelitian ini juga akan dilihat emisi gas CH4 (metana) dari lahan pada tiap perlakuan tersebut. Metode pertanian SRI, pada 17 negara telah diamati memberikan peningkatan hasil yang signifikan, di sisi lain bahan-bahan pupuk yang digunakan adalah limbah pertanian yang ada di sekitar. Penelitian ini diharapkan membuat masyarakat petani menjadi lebih kreatif dengan membuat pupuk sendiri.  Berdasarkan hasil pantauan terakhir, perkembangan cukup menjanjikan ditunjukkan oleh tanaman padi yang diberi MOL dari bahan rebung.

Ardiansyah mengatakan penelitian ini masuk dalam kategori pertanian presisi (precission farming), yaitu pertanian yang tepat input dan tepat sasaran. Untuk itu, segala aspek yang meliputi pertumbuhan tanaman, kebutuhan pupuk, kebutuhan air, dan lain-lain harus diukur secara akurat. Model pertanian presisi seperti ini telah banyak diterapkan di negara-negara maju.

Metode SRI, yang awalnya diperkenalkan di Madagaskar, sudah diterapkan di 17 negara menunjukkan bahwa hasil produksi padi lebih tinggi daripada cara penanaman konvensional, dengan rata-rata hasil produksi sebesar 6.8 ton per hektar. Apabila penanaman konvensional biasa panen hanya dalam kisaran 4-6 ton per hektar, maka dengan sistem ini dapat panen bisa berada dalam kisaran sekitar 6-8 ton per hektar.

Pantauan terhadap penelitian ini dapat dilakukan setiap hari sebab Ardiansyah dkk melibatkan alat ukur cuaca jarak jauh buatan Davis Instrument (USA) dari Laboratorium TEP UNSOED dan juga Field-Router dari Laboratory of International Agro Informatic, University of Tokyo.  Kondisi tanaman dan lingkungan tanaman dapat dipantau dari jarak jauh melalui jaringan internet.

         

Melihat perkembangan yang ditunjukkan, penelitian ini sangat potensial untuk terus dikembangkan.  Ardiansyah optimis penelitian ini menghasilkan data-data berkualitas dan akurat, serta berharap peneltian ini dapat bermanfaat bagi semuanya, khususnya menjadi sumbangsih untuk menjawab ketahanan pangan yang semakin komplek. Penelitian ini juga melibatkan seorang mahasiswa Program Doktor, University of Tokyo, 1 Mahasiswa S2 UNSOED, dan 5 mahasiswa S1 UNSOED. (hp/Ar) (reposted by d’kg)

UNSOED Maju Terus Pantang menyerah!

About the Author

Leave a Reply